Kaum feminis memandang negara secara berbeda-beda, namun benang merahnya adalah bagaimana menjelaskan negara itu berperan dalam penindasan terhadap perempuan, dan apakah negara mampu dibentuk untuk tujuan lebih lanjut demi kesetaraan gender.
Kalangan feminis liberal yakin bahwa sifat seksis, falosenstris, dan patriarkis itu bukanlah sifat bawaan negara demokrasi liberal. Analisis kaum ini fokus pada praktik diskriminasi yang terjadi pada kebijakan publik, kaum ini berkeyakinan bahwa sekali praktik yang seksis itu dihapuskan dan rintang penghalang dijebol dengan langkah, semacam tindakan afrimatif, bagi kaum ini negara bisa menjadi instrumen untuk mencapai kesetaraan gender.
Istilah diskriminasi merujuk pada setiap tindakan yang mengingkari perlakuan ataupun kesempatan yang sama pada individu atau kelompok berdasarkan asumsi gender, keanggotaan kelompok sosial tertentu. Pada awal periode pasca perang dunia kedua para ahli ilmu sosial semula hanya mengetengahkan diskriminasi berdasar ras yang dipahami sebagai hasil dari prasangka nilai individu. Namun pada awal tahun 1970-an seiring dikenalnya fungsionalisme struktural, istilah diskriminasi sistemik atau diskriminasi struktural pun mulai dikenal dan masuk dalam dunia literasi.
Medan, Jumat, 27 Juni 2008: Siang itu terik matahari menyengat di atas kepala. Saya tiba-tiba saja terbersit untuk mengikuti sholat jumat. Meskipun saya sering malas, apalagi ketika tengah berada diluar kota untuk sholat jumat,perasaan saya tiba-tiba rindu dengan suasana masjid, suara adzan dan doa-doa. “ayo kita sholat”,begitu ajak Fikarwin kepadaku. Aku langsung mengiyakan dan berangkatlah kami berdua ke masjid.Diikuti Farid dari belakang kami bertiga naik sepeda motor. Masjid yang kami tuju letaknya berada di kompleks asrama haji kota Medan.
Satu lagi produk media cetak berbentuk newsletter diterbitkan oleh Desantara Foundation a.k.a Desantara Instititue for Cultural Studies yang bermarkas di bilangan Depok Lama, Depok Jawa Barat. Jika kemarin, orang hanya mengenal Desantara dengan Majalah Kebudayan Desantara, Jurnal Perempuan Multikultural Srinthil, Diaspora, Jalang, Syirah dan buku-buku kebudayaan, maka kini lahir Desantara Report on Minority Issues. Newsletter berbahasa Inggris ini merupakan media dwi bulanan yang diterbitkan untuk memotret dan megakomodir isu-isu minoritas di Indonesia dengan segala problematikanya. Isu minoritas cakupannya amat luas dan merambah semua sektor kehidupan (lintas sektoral), tapi, media ini akan lebih memfokuskan diri pada isu kebebasan beragama, komunitas lokal, perempuan, pesantren, dan problem-problem kewarganegaraan.
Info Produk Terbaru Desantara Foundation Perempuan Aceh hadir sebagai subjek, melengkapi gagasan ke-Aceh-an dan ke-Islam-an, dari sebuah peta multikultur atas identitas orang Aceh yang plural. Jejak negosiasi perempuan Aceh yang terbaca dalam narasi kepentingan kolonialisme, nasionalisme (masa kesultanan sampai fase bersama Indonesia) menyusul konflik antara GAM dan TNI, dan bencana tsunami merupakan sebuah respon (baca: resistensi) atas rezim yang mencoba merepresentasikannya. Perempuan yang menjadi korban konflik GAM-TNI dan bencana tsunami membentuk sebuah memori kolektif berhasil berkomunikasi dengan kepentingan perempuan secara luas. Suara-suara perempuan Aceh mulai terdengar jelas.