Gandrung: Tarian Perlawanan Orang Using


2008-01-15  
Jika dibanding dengan masyarakat lain di Jawa Timur, tampaknya komunitas Using memiliki seni tradisi yang lebih banyak dan beragam. Sebut saja beberapa diantaranya; Gandrung, Jinggoan, Mocoan, Kuntulan, dan Angklung. Masing-masing jenis seni ini pun memiliki maknanya sendiri-sendiri. Dari semuanya mungkin Gandrung menempati posisi yang istimewa. Begitu istimewanya, sehingga pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengukuhkan Gandrung sebagai maskot Kabupaten yang terletak di ujung timur Propinsi Jawa Timur itu, menggantikan lambang sebelumnya; ular berkepala Gatot Kaca. Pengukuhan itu diprakarsai sendiri oleh Bupati Banyuwangi, Samsul Hadi, bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Banyuwangi, 18 Desember 2002 yang lalu. Selengkapnya

Seblang: Wajah Getir Kebudayaan Using


2008-01-15  

Cerita getir mengenai suku Using –masyarakat asli Banyuwangi– adalah sebagian dari kisah anak manusia yang menjadi korban kekerasan sesamanya. Gambaran tentang kegetiran hidup itu tampak antara lain dalam sebuah tarian yang disebut Tari Seblang. Tari Seblang adalah satu dari sekian banyak jenis upacara adat masyarakat Using yang menggambarkan bagaimana pahitnya menjadi korban keserakahan ambisi manusia. Sebuah tarian yang menghadirkan roh ke dalam wujud penarinya. Mistisitas Seblang tercermin kuat dari aroma dupa yang memenuhi pelataran bangunan sanggar yang telah dipenuhi berbagai macam hasil bumi sebagai sesajen, dan sang penari Seblang menari dalam keadaan tak sadarkan diri diiringi dengan syair-syair gending dan gerak tarian yang sanggup menyayat hati

Selengkapnya

Invesi


2008-01-15  
 Tak satu pun daerah (pemkab) yang ketinggalan berlomba memajang slogan-slogan seperti itu.  Meski label-label itu hanyalah slogan kosong atau paling jauh berupa daftar keinginan, namun tampak jelas bahwa dengan itu mereka berupaya untuk memperoleh cap yang terbaik. Indah, bersih, tertib, aman, dan cap-cap yang serba menyenangkan rupanya diidealisasi sedemikian rupa dan diimajinasi sebagai yang disandangnya, walaupun tak pernah beranjak dari sebuah angan-angan.    Selengkapnya

Hasnan Singodimayan: Duta Tanah Using


2008-01-15  

{Bagi mayoritas budayawan di Indonesia, nama Hasnan Singodimayan agaknya sudah tidak asing lagi. Pak Hasnan, demikian ia biasa dipanggil, adalah seorang budayawan yang rajin memperkenalkan kebudayaan Banyuwangi (Using) dalam even-even regional dan nasional, termasuk ketika mempresentasikan geger kebudayaan Banyuwangi periode 1965 dalam Halaqah Kebudayaan “DARI DIALOG KE REKONSILIASI: Menuju Kebaruan Politik, Agama dan Kebudayaan” yang diselenggarakan DESANTARA dan PUSPeK Averroes di Kota Batu, 24 – 26 Mei 2003

Selengkapnya

Santet: Potret Perih Pewaris Tanah Blambangan


2008-01-15  

Banyuwangi, 23 September 1998. Seperti malam-malam sebelumnya, Rabu malam itu Mateha tampak bermalas-malasan mencari angin di beranda rumah kediamannya. Mateha adalah seorang kakek uzur, berumur 84 tahun. Badannya yang kerempeng sudah tampak mulai mengerut. Namun belum lagi puas berleha-leha, dua buah truk colt diesel bermuatan puluhan orang tiba-tiba parkir di depan rumahnya. Tanpa basa-basi mereka langsung menyerbu kakek renta itu. Sambil berlompatan turun, orang-orang itu berteriak-teriak kencang, “Bunuh dukun santet itu! Bunuh dukun santet itu!” sembari mengacung-acungkan senjata tajam, balok kayu dan tangan kosong. Mateha gemetar. Lututnya lemas. Ia hanya bisa pasrah menerima pukulan yang bertubi-tubi menghunjam ke badannya. Setelah puas memukuli, rombongan itu lalu membopong tubuh kurus Mateha ke atas truk. Keluarganya tak bisa mencegah. Mereka sangat ketakutan melihat keganasan massa itu. Beberapa saat kemudian truk melesat meninggalkan Dusun Pancoran, Desa Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Siapakah orang-orang asing itu?

Selengkapnya

Gandrung Versus Syekh Wali Lanang


2008-01-15  

{}Nama Joko Samudro alias Sunan Giri bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Banyuwangi. Hal ini terutama karena adanya hubungan yang cukup istimewa antara Sunan Giri dengan rakyat Banyuwangi. Sunan Giri konon masih merupakan keturunan (trah) Kraton Blambangan, cucu Prabu Menak Sembuyu dari Putri Sekardalu yang diperistri oleh Maulana Ishak alias Syekh Wali Lanang

Selengkapnya

Ritus Bebalai dalam Tarikan Arus Modernisasi


2008-05-22  
Pada 2006 silam, tepatnya Minggu, 19 November, tepat pukul 20.20 wita. Dari arah ruang kamarnya, Kumala (51), pemimpin ritual bebalai dengan dibalut pakaian serba kuning melangkah pelan menuju depan balai (pusat ritual yang berada tepat di tengah rumah yang terbuat dari bambu kuning, lengkap dengan aneka macam sesajen berhias janur kuning). Ia lalu duduk dan memulai ritus bebalai dengan melafadzkan mantra-mantranya. Sementara kedua tangannya bermain-main di atas api kemenyan, yang asapnya mengepul ke seluruh sudut ruang rumahnya. Selengkapnya

Warisan


2008-01-22  
Ternyata Kecamatan Diwek tidak hanya melahirkan Asmuni, Tarzan, dan beberapa pelawak Srimulat lain. Salah satu kecamatan di Jombang ini, begitu versi ini menyatakan, juga berjasa melahirkan ludruk, sebuah kesenian yang kemudian diklaim sebagai identitas Jawa Timur. Tak penting apakah ini dagelan atau bukan, yang menarik justru keterangan berikutnya. Ludruk diciptakan, oleh arek-arek Diwek, untuk merespons atau menandingi Kethoprak Mataram yang waktu itu merambah ke seluruh pelosok Jawa Timur. Seni lakon produksi Yogya-Solo ini selalu mengisahkan cerita-cerita kerajaan Jawa (versi resmi) seperti yang termaktub dalam berbagai buku sejarah, babad, serat dan lain sebagainya. Bahasa yang dipakai pun adalah bahasa hubungan vertikal yang sangat formal dan resmi, kecuali yang dipakai para abdi yang selalu men-dagel. Suatu bahasa yang tak lazim beredar di (dan tak familier bagi lidah) masyarakat Jawa Timur.  Selengkapnya

Ludruk: Geliat Kesenian Rakyat


2008-01-22  
Kesenian tak lain merupakan representasi dari kebudayaan suatu masyarakat. Tari Bedhoyo yang lemah lembut, misalnya, baik di Keraton Surakarta maupun Yogyakarta sedikit banyak memperlihatkan karakteristik masyarakat daerah tersebut. Masyarakat Solo dan Yogya, seperti yang terlihat pada cara mereka berbahasa Jawa yang sangat halus, juga dalam sepak terjang kesehariannya. Lain lagi jika kita menyaksikan tari Bali. Tari kecak misalnya, yang dipenuhi suasana mistis, akan segera mengingatkan orang akan kepercayaan/agama masyarakat Bali. Kehidupan yang keras dan tantangan alam masyarakat Irian Jaya juga tercermin dalam tarian perang mereka yang begitu ekpresif dan disertai juga dengan teriakan-teriakan. Kesenian yang merupakan ungkapan rasa dan estetika dalam proses berkarya, dapat memberikan gambaran kepada kita untuk memahami sebuah konstruk budaya. Selengkapnya

Ludruk; Haruskah Berganti Wajah?


2008-01-22  

Pagupon omahe doro

Melu Nippon tambah sengsoro

(Pagupon rumahnya merpati

ikut Jepang semakin sengsara) 

Kata-kata Cak Durasim (dalam buku lain disebut Cak Markeso-red) di atas, pernah sangat terkenal di tanah air, khususnya di Jawa Timur. Untuk konteks sosial politik saat itu, tembang Cak Durasim tersebut merepresentasikan satu kritik (bahkan mungkin juga perlawanan) terhadap pemerintah kolonial Jepang.

Selengkapnya

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35] [36] [37] [38] [39] [40] [41] [42] [43] [44] [45