Menjadi Diri Sendiri


2008-05-04  
Telaah kritis atas tulisan Hebdige 

Kalau kita melihat proses ngaben di Bali, dan lukisan di galeri seni yang diperjual-belikan, kira-kira pertanyaan apa yang ada di benak kita? Dan untuk memfokuskan pertanyaan, ketika keduanya dipandang sebagai kebudayaan, pertanyaan apa yang anda andaikan? Saya sendiri menganggap yang pertama kebudayaan sebagai proses, sedangkan yang kedua kebudayaan lebih dipandang sebagai produk. Ngaben merupakan kebudayaan yang dipandang sebagai proses penyembahan kepada Sang Hyang Widi. Sedangkan contoh lukisan yang ada di galeri seni kebudayaan telah menjadi komoditi (produk). Konsukuensi dari pandangan yang pertama berwatak kreatif, humanis, dan memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang suci, sedangkan konsukuensi dari yang kedua berwatak masif, mekanis, dan memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang tidak suci lagi. Kebudayaan kemudian menjadi sesuatu yang dapat diperjualbelikan.

Selengkapnya

Nestapa Keluarga Tanpa Status Kewarganegaraan


2008-06-04  
Oleh Desantara / Mashuri
Keluarga Gwi Santoso (45 th); Santoso, Lany L.W (43 th), dan Ester Morita (14 th), adalah segelintir dari sekian banyak penduduk di Surabaya yang tidak pernah memiliki status resmi sebagai warga negara Indonesia. Mereka tidak punya kelengkapan dokumen (undocumented persons) untuk membuktikan identitas kewarganegaraannya karena dokumen mereka belum diakui secara legal. Selengkapnya

Video Komunitas dan Pelatihan Menulis Multikultural


2008-06-05  
Oleh Desantara / F Utomo
Memasuki paruh pertama tahun 2008, Desantara Foundation menggelar dua kegiatan utama yang meliputi bidang audio visual dan pelatihan menulis. Pembuatan video dokumenter menjadi pilihan strategis terkait agenda rekonsiliasi budaya dan upaya memobilisasi kekuatan sipil di komunitas lokal. Desantara memproyeksikan beberapa daerah untuk mengadakan workshop dan pembuatan film komunitas. Salah satunya di Jawa Tengah. Komunitas Sedulur Sikep, lebih dikenal sebagai Komunitas Samin, di daerah Pati, Jawa Tengah, menjadi tempat pertama penyelenggaraan workshop film sekaligus debut film dokumenter di tahun 2008. Selanjutnya, pelatihan menulis yang bertajuk “Sekolah Multikultural Desantara,” akan diadakan di tiga wilayah, Medan, Makasar, Sulawesi Selatan dan Mataram, Nusa Tenggara Barat. 
Selengkapnya

Behind The Scene "Lari dari Blora”


2008-06-07  
Oleh Desantara / Akbar Yumni
Sebagai masyarakat komunal, Sedulur Sikep sering ditayangkan sebagian kisah kehidupannya di berbagai media, baik media tulis maupun televisi. Sayangnya, ada sebagian media yang menuliskannya secara sepotong-potong, bahkan kadang salah tangkap dalam menafsirkan sisi kehidupan mereka. Celakanya, kesalahan seperti ini terus berulang lantaran tidak ada feedback dari komunitas yang hendak direpresentasikannya, pun juga akibat media yang terlalu berat pada orientasi nilai jual. Selengkapnya

Mengejar Surga di FPI


2008-06-07  
"Untuk dapat kartu anggota FPI itu susah sekali," kata Wahyu,  salah seorang simpatisan Front Pembela Islam (FPI). Menurutnya untuk menjadi anggota FPI dan men- dapatkan kartu anggota prosesnya panjang dan sulit.

Selama dua bulan terakhir ini, Wahyu bergabung dalam FPI hanya sebagai simpati-
san. "Saya merasa terpanggil untuk ikut FPl," ujarnya. Wahyu yang saat ditemui Republika  masih menganggur mengatakan tidak mengharapkan apa apa untuk bergabung dalam FPl.
Selengkapnya

Paul Feyerabend


2008-06-04  
Paul Feyerabend (1924-1994) lahir di Wina, Austria. Anak seorang wakil rakyat. Ibunya seorang penjahit pakaian wanita. Masa mudanya dihabiskan untuk belajar teater, seni suara dan sejarah teater. Tahun 1946 ia menerima beasiswa untuk belajar menyayi dan manajemen di Weimar. Tahun 1947 ia kembali ke Wina untuk belajar sejarah dan sosiologi di Universitas Wina. Tak lama kemudian ia pindah ke jurusan fisika dan berhasil menerbitkan makalah tentang ilustrasi fisika modern. Pada periode ini Feyerabend dikenal sebagai positifistik. Setelah belajar sains di Universitas Wina, Feyerabend mengambil filsafat untuk tesis doktoralnya. Minatnya yang tinggi terhadap filsafat keilmuan membuatnya dikenal sebagai filosof ilmu pengetahuan. Ia berusaha mencari aturan-aturan dari metode ilmu pengetahuan yang lebih tepat. Selengkapnya

Pos Fordisme


2008-06-04  
Bagi kalangan yang bergiat dalam wacana ilmu-ilmu sosial kontemporer dan kajian budaya, term Fordisme agaknya bukan sesuatu yang asing. Memang, kalau melihat term Fordisme yang akar katanya dari Ford dan isme, orang bisa melihat bahwa term ini lebih berkaitan dengan kehidupan dan perkembangan ekonomi, namun sebenarnya lebih jauh, ia mencakup juga formasi sosial yang lebih luas. Bagaimana tidak, ia dianggap sebagai salah satu penanda dalam pemilahan era perkembangan sosial ekonomi, sosial politik dan sosial budaya. Selengkapnya

Mazhab Birmingham dan Mazhab Frankfurt


2008-06-04  
Anda yang akrab dengan Mazhab Frankfurt (Die Frankfurter Schule), yang terkenal dengan teori kritis-nya, yang geraknya di wilayah kebudayaan cukup menghentakkan teori-teori sosial semestinya kenal juga dengan Mazhab Birmingham yang mencuat dengan cultural studies Inggris-nya. Seperti halnya Mazhab Frankfurt, Mazhab Birmingham melakukan kerja-kerja budaya yang mendalam dalam pengembangan berbagai pendekatan kritis sebagai upaya analisis, interpretasi dan kritisisme atas artefak-artefak budaya. Richard Hoggart (l. 1918), Raymond Williams (1921-88), Edward P. Thompson (1924-93) dan Stuart Hall (l. 1932) adalah sebagian dari nama-nama besar dari Mazhab Birmingham ini. Selengkapnya

Richard Hoggart


2008-03-05  
“ … ketundukan budaya adalah lebih mudah dianut dan lebih sukar disingkirkan ketimbang ketundukan ekonomi.” R. Hoggart

Dilahirkan pada tahun 1918, tokoh dengan karya terkenalnya The Uses of Literacy (1957) ini merupakan salah satu nama yang mengisi halaman buku-buku teks dasar dalam cultural studies. Bersanding bersama R. Williams dan E. P. Thompson namanya menjadi “mantra” dalam proyek cultural studies awal yang berupaya mempertahankan budaya kelas pekerja dalam struktur sosial masyarakat Inggris, yakni. Namanya telah mapan di pintu gerbang kajian budaya yang spesialisasinya kehidupan orang-orang “sepi” ini. Tradisi ‘budaya dan masyarakat’ Hoggart-Williams-Thompson menjadi mapan dalam apa yang disebut dengan Mazhab Birmingham. Selengkapnya

Pribumisasi Islam: Siasat Mengoyak Tafsir Islam “Murni”


2008-06-05  
 Masih ingatkah Anda dengan istilah “pribumisasi Islam” yang pada tahun 1980-an dinubuatkan oleh GusDur--panggilan akrab Abdurahman Wahid? Barang kali memori otak kita masih segar untuk mengingat betapa wacana yang digulirkan Sang mantan presiden kabinet gotong royong itu menghentak kesadaran keberagamaan umat Islam ketika itu. Reaksi pro dan kontra pun tak dapat dielakan. Makhluk yang bernama “pribumisasi” ini menawarkan cara baca baru bagi kehidupan beragama. Ia mengoyak dan kelaziman konstruk beragama yang --  dianggap--otentik oleh para “pencari dan penganut Islam murni”. mainstream Selengkapnya

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35] [36] [37] [38] [39] [40] [41] [42] [43] [44] [45