Whong Using Komunitas Asli Banyuwangi


2008-05-20  

 Apa yang paling terkenal dari Banyuwangi? Barangkali orang akan memberikan jawaban seragam: dukun santet! Jawaban seperti itu bisa dimengerti, karenamerupakan akibat dari merambahnya peristiwa pembantaian dukun santet di Banyuwangi tempo hari. Sebenarnya Banyuwangi telah dikenal secara nasional lewat seni-budaya tari Gandrung, juga lagu daerahnya yang melankolik.

Selengkapnya

Awalnya, Hanya Sebuah Seni Pertunjukan


2008-06-20  
 Menilik sosok perempuan tandha’ dalam lingkup masyarakat patriarki Madura
  Masyarakat Madura dalam rentang waktu yang cukup panjang, mungkin sudah dua abad lebih, telah berhasil menemukan jatidiri sebagai suku bangsa yang memiliki tradisi diasporik (suka bermigrasi). Meski demikian, kesenian Madura yang muncul sebagai produk kebudayaan sangat jelas terbaca sebagai upaya mereprsentasikan ketangguhan kulturalnya menghadapi kenyataan geografis pulau Madura, tanah bertipe ladang yang kurang subur. Selengkapnya

Pertunjukan Gandrung: Dari Tradisi ke Dominasi Pasar


2008-04-20  
 Penari: Memburu Rezeki dalam Kontrol Agama
Menjatuhkan pilihan menjadi penari gandrung terkadang bukan sembarang pilihan yang asal jadi. Temu, Mudaiyah, dan Siti, mungkin tiga dari sekian penari gandrung yang memilih seni ini sebagai profesi karena limpahan tradisi keluarga. Sementara Dartik, Chusnul, atau Yuyun memilih gandrung lebih karena terbuai oleh imajinasi popularitas dan hidup lebih baik dari segi ekonomi. Selengkapnya

Pelatihan Jurnalistik Perempuan Multikultural


2007-06-20  
 14 Peneliti, Dosen dan Aktivis Perempuan Mengikuti Pelatihan Jurnalistik Perempuan Multikultural.

Sebanyak 14 Peneliti, Dosen dan Aktivis Perempuan dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti acara Pelatihan Jurnalistik Perempuan Multikultural Berbasis Etnografi yang diselenggarakan Kajian Perempuan Desantara. Keempat belas perserta yang 80 % perempuan ini adalah hasil penjaringan dan seleksi dari sekitar 64 pelamar pelatihan yang diadakan di Banyuwangi, Jawa Timur. Dari 18 peserta yang lolos, dua menyatakan mundur oleh sebab alasan kesehatan dan ijin dari instansi tempat bersangkutan bekerja. Selengkapnya

Selamat datang di Banyuwangi


2007-06-20  
 Seri PJPMBE 2007. Aroh tiada pernah menyangka kalau ternyata perjalanan dari Surabaya ke Banyuwangi delapan kali lamanya perjalanan Samarinda-Surabaya. Maklumlah Aroh, panggilan akrab dari Marfuatin Muthoharoh, baru pertama kalinya melakukan perjalanan ke Banyuwangi.         “Saya pikir Banyuwangi itu bisa ditempuh dalam beberapa jam saja dari Surabaya,” ungkap peserta Pelatihan Jurnalistik Perempuan Multikultural Berbasis Etnografi dari Naladwipa Institute Samarinda ini dengan lugu. Selengkapnya

Diskusi Perempuan dan Komodifikasi Seksualitas


2007-06-20  
<p align="justify">Seiring dengan terbitnya dua edisi baru Jurnal Srinthil, Kajian Perempuan Desantara menggelar diskusi &quot;Perempuan dan Komodifikasi Seksualitas&quot;  di Hybrid, Cafe and Book Store, Jl Wr Supratman R-6 Kampung Utan Ciputat.</p><div style="text-align: center"><img mce_tsrc="/_templates/default/_templates/default/images/stories/oktober07/diskusi2.jpg" alt=" " width="300" height="225" /></div><br />Acara ini menghadirkan Agus Irianto Maladi (kandidat doktor Universitas Indonesia), Novi Anoegrajekti (Doktor lulusan Universitas Indonesia dan Kepala Program KP Desantara) dan Irawan Karseno (praktisi seni). Acara yang berlangsung pada 21 Juni 20007 ini disesak peserta yang datang dari kalangan akademisi, praktisi iklan, aktifis perempuan, dan mahasiswa.<br /><br /><div style="text-align: center"><img mce_tsrc="/_templates/default/_templates/default/images/stories/oktober07/diskusi1.jpg" alt=" " width="300" height="225" /></div><br />Selain membahas tampilnya perempuan di layar kaca, diskusi ini juga membahas maraknya outlet yang menjual obat kuat semacam viagra dan tabib-tabib yang khusus menangani seksualitas. Pemateri menyoroti hadirnya perempuan dalam infotainment dan iklan yang seringkali mempertontonkan tubuh dan privasinya seringkali dipandang sebagai praktek eksploitasi terhadap mereka.<br /><br /><br /><div style="text-align: center"><img mce_tsrc="/_templates/default/_templates/default/images/stories/oktober07/diskusi.jpg" alt=" " width="300" height="225" /></div><br />Padahal tidak selalu demikian, perempuan juga melakukan siasat untuk meraih apa yang diinginkannya dengan media hal itu. Begitu pula maraknya obat-obat kuat seperti viagra, yang menawarkan janji-janji seksulitas menggambarkan seolah-olah seks adalah sesuatu yang diwadagkan, materi. Yaitu alat kelaminnya harus panjang, besar, kuat, tahan lama, dan lain sebagainya. Dalam diskusi ini memandang, dalam kerangka Islam dan Jawa, seks itu bukan semata-mata persoalan wadag, tapi lebih pada persoalan transendensi dan spiritualitas.<br /> <p>&nbsp;</p><p align="justify">&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>Seiring dengan terbitnya dua edisi baru Jurnal Srinthil, Kajian Perempuan Desantara menggelar diskusi "Perempuan dan Komodifikasi Seksualitas" di Hybrid, Cafe and Book Store, Jl Wr Supratman R-6 Kampung Utan Ciputat. Selengkapnya

Towani-Tolotan, Nasibmu Kini


2008-06-23  

   Mereka menyebut diri Towani, tetapi orang luar selalu menyebut Tolotan. Towani adalah orang-orang berani, bersikap tegas, dan berpegang prinsip. Sedangkan Tolotan, sebutan pertama kali dilontarkan oleh salah seorang raja Pangkajene (dari kalangan komunitas Towani di Amparita sendiri tak diperoleh keterangan siapa nama raja tersebut) berarti sebutan untuk orang yang berdiam di sebelah selatan, mereka yang berada di luar diri, outsider, yang lain dan bukan kita. Komunitas Towani memang bukan bearasal dari wilayah [kekuasaan] Pangkajene melainkan dari Wajo (wilayah kekuasaan politik di sebelah timur Pangkajene). Tetapi baik orang Wajo maupun Pangkajene adalah komunitas Bugis yang cukup kental; berbahasa dan bertradisi Bugis. Problemnya adalah ketika Bugis dikonstruksi sebagai identik Islam, maka mau-tak-mau komunitas ini terlempar dari “rumah”nya sendiri. 

Selengkapnya

Tidak Semua Budaya Harus Dilarang


2008-06-23  
Pesantren yang di tanah Jawa lebih diidentikkan dengan [structural] Nahdlatul Ulama banyak disinyalir merupakan lembaga Islam yang mempunyai khasanah lokal yang kental. Kitab-kitab kuning yang berbahasa Arab itu selalu diberi makna gandul dalam bahasa lokal.  Bahkan di Jawa dikenal huruf pegon, huruf Arab Jawi,   suatu tulisan berhuruf Arab berbahasa Jawa atau Melayu. Namun, Pesantren adalah belantara yang luas, tidak tunggal, di mana satu dan yang lain bisa jadi tidak searah, apalagi dalam menentukan nahkoda politik bagi para santrinya. Selengkapnya

Melawan Lupa


2008-06-23  
Muslim Sulawesi Selatan mungkin yang paling kreatif. Coba bayangkan al-Qur’an yang dibakukan dan diberlakukan di seluruh belahan dunia hanya 30 juz, dikreasi menjadi 40 juz.  Sepuluh juz sisanya diturunkan bukan di tanah Arab melainkan di bumi tempat berpijak Bugis-Makassar-Mandar. Mungkin Anda marah dan menganggap mereka keterlaluan, durhaka, menentang wa inna lahu lahafidhun sekaligus menantang Tuhan. Atau, sebaliknya, tak ambil pusing dan membiarkan cerita itu sebagai lelucon yang tak lucu.  Selengkapnya

Jejak Negosiasi Perempuan Aceh


2008-06-23  

Info Produk Terbaru Desantara Foundation
Perempuan Aceh hadir sebagai subjek, melengkapi gagasan ke-Aceh-an dan ke-Islam-an, dari sebuah peta multikultur atas identitas orang Aceh yang plural. Jejak negosiasi perempuan Aceh yang terbaca dalam narasi kepentingan kolonialisme, nasionalisme (masa kesultanan sampai fase bersama Indonesia) menyusul konflik antara GAM dan TNI, dan bencana tsunami merupakan sebuah respon (baca: resistensi) atas rezim yang mencoba merepresentasikannya. Perempuan yang menjadi korban konflik GAM-TNI dan bencana tsunami membentuk sebuah memori kolektif berhasil berkomunikasi dengan kepentingan perempuan secara luas. Suara-suara perempuan Aceh mulai terdengar jelas.

Selengkapnya

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35] [36] [37] [38] [39] [40] [41] [42] [43] [44] [45