Seniman Pakarena, Berkelit dari Bayang Dominasi


2008-04-29  
Memang tak ada orang yang tahu persis sejarah Pakarena. Tapi dari cerita-cerita lisan yang berkembang, tak diragukan lagi tarian ini adalah ekspresi kesenian rakyat Gowa. Menurut Munasih Nadjamuddin yang seniman Pakarena, tarian Pakarena berawal dari kisah mitos perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Sebelum detik-detik perpisahan, boting langi mengajarkan penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam, beternak hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki. Gerakan-gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual saat penduduk lino menyampaikan rasa syukurnya kepada penghuni boting langi.
Selengkapnya

Pakarena, Estetika Pariwisata dan Konstruksi Agama


2008-04-29  
Gendang dipukul bertalu-talu. Irama gendang tunrung pakanjara yang cepat itu mengiringi langkah tenang dan gemulai penari Pakarena ke panggung. Dengan tatapan mata tajam ke depan, gerakan tangan dan badan nampak teratur mengikuti arah empat mata angin. Tampaknya para penari ini tahu betul pakem tarian sehingga tak perlu penari lain menjadi patokan. Sesayup terdengar pula lantunan Bunganna Ilalang Kebo mengiringi, lagu Makassar yang lazim dan mudah dipelajari. Selengkapnya

Syarifuddin Dg Tutu: “Siapa Bilang Sinrilik Tidak Islami?”


2008-04-29  

Syarifuddin Dg Tutu, namanya. Mustahil rasanya masyarakat di sekitar Gowa tak mengenalnya. Pria ramah ini adalah salah satu seniman sinrilik yang cukup terkenal. Bahkan ia bukan hanya ahli membaca sinrilik, ia juga mahir menampilkan tari pakarena dan beberapa seni tradisi lainnya.

Saat DESANTARA bertandang ke rumahnya di daerah Bontoramba, wajahnya tampak sumringah. Ia bersemangat melayani perbincangan kami terutama saat menyinggung seputar tradisi sinrilik yang juga ia geluti. “Sekarang ini sinrilik praktis makin termarginalkan,” ujar Syarifuddin tiba-tiba dengan nada suara yang terdengar berat.

Selengkapnya

Sahuni


2008-04-30  

Pada tahun 1984, tepatnya Bulan Oktober, seorang seniman berwajah ala Nietsche menggebrak panggung kesenian di Banyuwangi. Ialah Sahuni, seniman cerdas yang mampu “mereinkarnasikan” kembali hadrah kuntulan yang nyaris tersingkir dalam panggung kesenian di Banyuwangi. Ia mengembangkan hadrah menjadi kesenian kundaran. Sebab kuntulan dalam hematnya kurang membumi.

Menurut Sahuni, Jika ditarik lebih kebelakang lagi, kundaran awalnya berasal dari Hadrah, sebuah kesenian yang tumbuh di lingkungan pesantren. Hadrah dimainkan oleh empat orang lelaki penabuh rebana, dalam kesenian ini tidak ada unsur gerakan tari sama sekali dan mengusung dakwah keislaman 100 persen dalam lirik-lirik yang dinyanyikannya.

Selengkapnya

Kundaran, Dari Tuntunan ke Tontonan, dan Tantangannya Kini


2008-04-30  
Bagi orang Banyuwangi, kundaran atau kuntulan dadaran, atau yang biasa disebut dengan kuntulan saja, sudah tidak asing lagi. Ia diminati banyak orang, pertunjukannya selalu disesaki oleh penonton tua-muda. Maklum saja, kuntulan versi baru ini boleh dibilang mewakili ruang batin masyarakat Banyuwangi kontemporer yang terbuka, cair, dinamis dan peka terhadap perubahan.

Tidak banyak yang mencatat memang, bahwa kuntulan sebenarnya memiliki sejarah yang sangat menegangkan. Ibarat sebuah arena, ia adalah ruang tempat berbagai kepentingan dipertarungkan. Ya, kuntulan sebagai arena kontestasi. Selengkapnya

Nasib Kuntulan di Tengah Desakan Purifikasi Islam


2008-06-21  

“Kuntulan itu sudah mengarah ke pelanggaran agama dan penyelewengan. Karena sudah jauh diselipi budaya-budaya di luar Islam,” tegas Soecipto, seorang tokoh sebuah tarekat terkenal di Banyuwangi.

Ya, Soecipto adalah salah seorang saja. Salah satu agamawan yang berpandangan negatif dan menolak keras keberadaan seni kuntulan di bumi Blambangan ini. Alasannya, pertunjukan kuntulan membawa maksiat, penuh tabu erotisme dan menodai agama.

Selengkapnya

Ketika Massenrengpulu Menampik Bugis


2008-04-30  

Massenrengpulu, komunitas ini secara administratif masuk Kabupaten Enrekang, Propinsi Sulawesi Selatan yang memiliki beberapa kelompok etnis besar seperti Bugis-Makasar, Mandar dan Toraja. Oleh banyak orang, dan dari tulisan-tulisan yang tersebar mengenai komunitas ini, Massenrengpulu kerap kali dikelompokkan sebagai bagian dari Bugis yang sebagian besar mendiami beberapa wilayah seperti Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pare-pare dan beberapa wilayah lain. 

Komunitas Massenrenpulu juga dikenal kaya tradisi budaya, musik maupun tarian. Sebutlah misalnya tari pajaga, tari paroddo, musik ma’bas dan ma’ronggeng, serta nyanyian tradisi lainnya.

Selengkapnya

Perda Solok Berpakaian Muslim dan Muslimah di Kabupaten Solok


2008-04-30  

a.    bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 29 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945, Negara menjainin kebebasan tiap-tiap Penduduk untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing

b.   bahwa sebagai salah satu perwujudan dari pelaksanaan ajaran Agarna Islam adalah tercerinin dari pakaiannya dalam kehidupan sehari-hari:

c.    bahwa menutup aurat didalam Islam hukumnya adalah wajib, baik didalam ibadah yang bersifat mahdah maupun yang bersifat ammah:

d.   bahwa untuk terwujudnya suasana kehidupan masyarakat yang mencerininkan kepribadian muslim dan muslimah serta dalam upaya mewujudkan masyarakat Kabupaten Solok yang beriman dan bertaqwa, maka dipandang perlu rnenetapkan Peraturan Daerah tentang Berpakaian Muslim dan Muslimah.

{ic_download} File type DOC {/ic_download} Selengkapnya

Marxisme & Kritik Sastra


2008-05-02  
 Kritik sastra Masxis berbeda dari pendekatan-pendekatan lainnya, bukanlah sejenis “akademisme” melainkan praksis, yakni perjuangan umat manusia, laki-laki dan perempuan, untuk membebaskan dirinya dari segala bentuk penindasan dan penghisapan. Tery Eagleton menawarkan perspektif  lain dari dunia sastra, bahwa sastra seharusnya tak hanya berasyik masyuk dengan keindahan kata estetika penulisan, tetapi juga mempunyai visi perubahan dan penolakan terhadap setiap ketidak adilan.  
Selengkapnya

Ahmadiyah di Mata Nara


2008-05-06  

Rekomendasi Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) untuk pembubaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang dilahirkan dari rapat evaluasi tanggal 16 April 2008 lalu ternyata semakin manaikkan suhu keteganggan yang sudah lama menyala.

Kehidupan jemaat Ahmadiyah di berbagai daerah menjadi tak tenang. Hari-hari mereka kini dibalut rasa takut dan cemas: cemas karena setiap saat memungkinkan didatangi oleh gerombolan orang-orang yang selama ini menghendaki Ahmadiyah enyah dari bumi Indonesia; takut akan keselamatan diri dan keluarga serta aset-aset mereka yang setiap saat bisa menjadi sasaran amuk orang-orang beringas itu.

Selengkapnya

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35] [36] [37] [38] [39] [40] [41] [42] [43] [44] [45